perasaan, naluri dan hedonisme (mencari kenikmatan) sebagai pemahaman awal tentang pemenuhan kebutuhan manusia [31]
[31] Sondang P siagian, Teori Motivasi dan aplikasinya, (Jakarta, PT Rineka Cipta, 2004), p. 141
Dari segi taksonomi, motivasi berasal dari kata ”movere” dalam bahasa latin yang artinya bergerak. Sejumlah istilah yang biasanya terkandung dalam berbagai definisi tentang motivasi antara lain adalah keinginan, harapan, kebutuhan, tujuan, sasaran, dorongan dan insentif[32]
[32] Ibid 142
Motivation an internal state that energizes directs, and maintains behavior.Motivasi adalah suatu keadaan internal yang memberi tenaga langsung dan memelihara perilaku [33]
[33] Tan Oon Seng Etc, Educational psychology, A Practitioner Researcher Approach (Singapore, Nanyang Technological University, ) p. 276.
Buchori Zainun mengungkapkan bahwa motivasi berkaitan erat dengan konsep sintality yang diartikan dengan pencapaian atau pemuasan tujuan. Seorang yang mengalami dorongan diartikan sedang berada dalam keadaan tidak seimbang ( a state of disequilibirum), keadaan tersebut mendorong untuk mencapai pemuasan, yang bila terpenuhi akan mencapai keadaan keseimbangan ( a state of equilibirum)[34]
[34] Buchari Zainum, Manajemen dan Motivasi (Jakarta, Balai Aksara, 1989), p. 18-19.
Teori dua faktor mengemukakan bahwa ada seperangkat faktor yang menghasilkan kepuasan (motivator), dan ada seperangkat faktor lain yang menghasilkan ketidakpuasan (higienes). Kedua faktor tersebut merupakan dua dimensi yang berada dalam organisasi [35].
[35] Sudarwan Danim, Motivasi Kepemimpinan dan Efektivitas Kelompok (Jakarta, Rineka Cipta, 2004), p. 31-32.
Pemahaman lain mengenai dorongan sebagai aspek motivasi dikemukan melalui oleh teori ”X” dan ”Y” yang dikemukakan oleh Douglas McGregor, yang menyatakan bahwa manusia memilki dua kecenderungan yaitu kecenderungan berprilaku negatif dan kecenderungan berprilaku positif[36]
[36] Sondang Siagian, loc. Cit. p. 162.
Komponen kedua motivasi adalah kebutuhan. Kebutuhan disebut sebagai situasi motivasi yang subjektif, yaitu keadaan yang terdapat dalan diri seseorang (need)[37]
[37] Buchari Zainum, loc. cit., p.20.
Teori hierarki kebutuham Maslows, yang menyatakan bahwa dalam diri semua manusia bersemayam lima jenjang kebutuhan berikut :
a. fisiologis, pemenuhan rasa lapar, haus, pakaian, seks dan kebutuhan jasmani lainnya
b. keamanan, kebutuhan keselamatan dan perlindungan terhadap kerugian fisik dan emosional
c. sosial, kebutuhan kasih sayang,, rasa memiliki, diterima dengan baik, dan persahabatan
d. esteem / harga diri, kebutuhan penghormatan, otonomi, prestasi, ststus, pengakuan dan perhatian.
e. aktualisasi diri, kebutuhan untuk menjadi seseorang sesuai ambisinya, pertumbuhan, pencapaian potensi, dan pemenuhan kebutuhan diri.[38]
[38] Stephen P Robbin, loc. cit. p. 214.
Teori kebutuhan berikutnya adalah teori ”McClelland’s Need For Achievement”, yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan seseorang akan prestasi. Ada tiga kebutuhan manusia yakni kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan untuk berafiliasi, dan kebutuhan untuk kekuasaan. Ada beberapa karakteristik orang berprestasi antara lain : (1) suka mengambil resiko yang moderat; (2) memerlukan umpan balik yang segera; (3) memperhitungkan keberhasilan; (4) menyatu dengan tugas [39].
[39] Miftah Thoha, Prilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada), p. 236-238.
Selanjutnya sepadan dengan yang telah dikemukakan terdahulu mengenai individu dengan dorongan berprestasi tinggi dikemukakan Stephen Robbin yaitu ; (1) bertanggung jawab, (2) berusaha memperoleh umpan balik dan (3) berani mengambil resiko yang sedang saja [40]
[40] Stephen Robbin, loc. cit., p. 224.
M. Entang dalam Motivasi Kerja mengidentifikasi ciri orang berprestasi sebagai berikut :
Berani memikul tanggung jawab dalam pemecahan suatu persoalan
Cenderung menerima tantangan dengan resikon yang diperhitungkan
Selalu menggunakan balikan untuk menilai kerja yang sudah dilakukan
Merasa waktu sangat sempit, dan seharusnya digunakan sebaik-baiknya
Mengerjakan sesuatu dengan kreatif dan inovatif
Menyukai pekerjaan yang serba mungkin, dan tersedia alternatif
Berinisiatif, senang menyelidiki dan mempelajari lingkungan
Lebih menyukai kegiatan yang dapat meningkatkan keahlian/ profesionalisme[41].
[41] M. Entang, Motivasi Kerja (Bogor, Bina Prima Global, 2006), p.8.
Teroi motivasi yang menekankan pada penetapan tujuan (Goal Setting) dikemukakan oleh Edwin Lock dalam J Winardi yang menyatakan bahwa ”apa yang diupayakan pencapaiannya oleh seorang individu, ia merupakan objek atau tujuan suatu kegiatan ”. Penetapan tujuan tersebut bagi karyawan dapat berfungsi untuk : mengarahkan perhatian, mengatur upaya, meningkatkan persistensi, menunjang dalam penetapan strategi dan rencana kegiatan [42].
[42] J. Winardi, Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen (Jakarta, PT Raja Grafindo Persana,2001), p. 117-120.
Rabu, 12 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
selamat launching pak, nanti di link di wbs saya : adefathurahman.webs.com dan blog saya :adefathurahman.blogspot.com
Posting Komentar